Selasa, 18 Oktober 2016

Penelitian Deskriptif

Tujuan
Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat pecandraan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.

Contoh
Beberapa contoh penelitian macam ini adalah:
1.  Survai mengenai pendapat umum untuk menilai sikap para pemilih terhadap encana perubahan tahun pelajaran.
2.       Survai dalam suatu daerah mengenai kebutuhan akan pendidikan keterampilan.
3.       Studi mengenai kebutuhan tenaga kerja akademik pada kurun waktu tertentu.
4.       Penelitian mengenai taraf kehidupan serap pelajar-pelajar SMU.

Ciri-ciri
(1) Secara harfiah, penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencamdraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Dalam arti ini penelitian deskriptif itu adalah akumulasi data dasar dalam cara deksriptif semata-mata tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan, mentest hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dan implikasi, walaupun penelitian yang bertujuan untuk menemukan hal-hal tersebut dapat mencakup juga metode-metode deskriptif.
Tetapi para ahli dalam bidang penelitian tidak ada kesepakatan mengenai apa sebenarnya penelitian deskriptif itu. Sementara ahli memberikan arti penelitian deskriptif itu lebih luas dan mencakup segala macam bentuk penelitian kecuali penelitian historis dan penelitian eksperimental, dalam arti luas biasanya digunakan istilah penelitian survai.
(2)    Tujuan penelitian-penelitian survey:
a.       Untuk mencari informasi faktual yang mendetail yang mencandra gejala yang ada.
b.  Untuk mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan dan praktek-praktek yang sedang berlangsung.
c.       Untuk membuat komparasi dan evaluasi.
d.    Untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh orang-orang lain dalam mengalami masalah atau situasi yang sama, agar dapat belajar dari mereka untuk kepentingan pembuatan rencana dan pengambilan keputusan di masa depan.

Langkah-langkah Pokok
1.    Definisikan dengan jelas dan spesifik tujuan yang akan dicapai. Fakta-fakta dan sifat-sifat apa yang perlu diketemukan.
2.     Rancangkan cara pendekatannya. Bagaimana kiranya data akan dikumpulkan? Bagaimana caranya menentukan sampelnya untuk menjamin supaya sampel sampel representative bagi populasinya? Alat atau teknik observasi apa yang tersedia atau perlu dibuat? Apakah metode pengumpulan data perlu dilatih terlebih dahulu?
3.       Kumpulkan data.
4.       Susun laporan

Senin, 17 Oktober 2016

Penelitian Historis

Tujuan
Tujuan penelitian historis adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan serta mensistesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat. Seringkali penellitian yang demikian itu berkaitan dengan hipotesis-hipotesis tertentu.

Contoh
Studi mengenai praktik “bawon” di daerah pedesaan di Jawa Tengah yang bermaksud memahami dasar-dasarnya di waktu yang lampau serta relevansinya untuk waktu kini, studi ini dimaksudkan juga untuk mentest hipotesis bahwa nilai-nilai social tertentu serta rasa solidaritas memainkan peranan penting dalam berbagai kegiatan ekonomi pedesaan.
Ciri-ciri
1.       Penelitian historis lebih tergantung kepada data yang diobservasi orang lain daripada yang diobservai oleh peneliti sendiri. Data yang baik akan dihasilkan oleh kerja yang cermat yang menganalisis keotentikan, ketepatan dan pentingnya sumber-sumbernya.
2.       Berlainan dengan anggapan yang populer, penelitian historis haruslah tertib-ketat, sistematis dan tuntas, seringkali penelitian yang dikatakan sebagai suatu penelitian historis hanyalah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliabel dan berat sebelah.
3.       Penelitian historis tergantung kepada dua macam data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari sumber primer yaitu si peneliti (penulis) secara langsung melakukan observasi atau penyaksian kejadian-kejadian yang dituliskan. Data sekunder diperoleh dari sumber sekunder yaitu peneliti melaporkan hasil observasi orang lain yang satu kali atau lebih telah lepas dari kejadian aslinya. Di antara, keduasumber itu, sumber primer dipandang sebagai memiliki otoritas sebagai bukti tangan pertama, dan diberi prioritas dalam pengumpulan data.
4.       Untuk menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam kritik yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal menanyakan “Apakah dokumen relik itu otentik”, sedang kritik internal menanyakan “Apabila data itu otentik, apakah data tersebut akurat dan relevan?”. Kritik internal harus menguji motif, keberat sebelahan dan keterbatasan si penulis yang mungkin melebih-lebihkan atau mengabaikan sesuatu dan memberikan informasi yang terpalsu. Evaluasi kritis inilah yang menyebabkan “penelitian historis” itu sangat tertib ketat yang dalam banyak hal lebih demanding daripada studi eksperimental.
5.       Walaupun penellitian historis mirip dengan penelahaan kepustakaan yang mendahului lain-lain bentuk rancangan penelitian, namun cara pendekatan historis adalah lebih tuntas, mencari informasi dari sumber yang lebih luas.penelitian historis juga menggali informasi-informasi yang lebih tua daripada yang umum dituntut dalam penelaahan kepustakaan dan banyak juga menggali bahan-bahan tak diterbitkan yang tak dikutip dalam bahan acuan yang standard.
Langkah-langkah Pokok
1.       Definisikan masalah. Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada diri sendiri:
  • Apakah cara pendekatan historis ini merupakan yang terbaik bagi masalah yang sedang digarap?
  • Apakah data penting yang diperlukan mungkin didapat?
  • Apakah hasilnya nanti mempunyai cukup kegunaan?

2.    Rumuskan tujuan penelitian dan jika mungkin rumuskan hipotesis yang akan memberi arah dan fokus bagi kegiatan penelitian itu.
3.     Kumpulkan data, dengan selalu mengingat perbedaan antara sumber primer dan sumber sekunder.
Suatu keterampilan yang sangat penting dalam penelitian historis adalah cara pencatatan data: dengan sistem kartu atau dengan sistem lembaran, kedua-duanya dapat dilakukan.
4.     Evaluasi data yang diperoleh dengan melakukan kritik eksternal dan kritik internal.
5.    Tuliskan laporan.

Minggu, 16 Oktober 2016

Macam-Macam Penelitian

Dalam melakukan penelitian, orang dapat menggunakan berbagai macam metode, dan sejalan dengannya rancangan penelitian yang digunakan juga dapat bermacam-macam. Untuk menyusun sesuatu rancangan penelitian yang baik perlulah berbagai persolan dipertimbangkan. Petanyaan-pertanyaan berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan pokok yang perlu dijawab dalam setiap usaha untuk menyusun suatu rancangan penelitian:
a.       Cara pendekatan apa yang akan dipakai?
b.      Metode apa yang akan dipakai?
c.       Strategi apa yang kiranya paling efektif?
Keputusan mengenai rancangan apa yang akan dipakai akan tergantung kepada tujuan penelitian, sifat masalah yang akan digarap, dan berbagai alternative yang mungkin digunakan. Apabila tujuan penelitian telah dispesifikasikan, maka penelitian itu telah mempunyai ruang lingkup dan arah yang jelas, dan karenanya perhatian dapat diarahkan kepada “target area” yang terbatas. Selanjutnya, sifat masalah akan memainkan peranan utama dalam menentukan cara-cara pendekatan yang cocok, yang selanjutnya akan menentukan rancangan penelitiannya. 

Pada waktu ini bermacam-macam rancangan penelitian telah dikembangkan orang dan untuk mengikhtisarkan berbagai rancangan tersebut berbagai cara penggolongan telah pula diusulkan. Salah satu di antara cara-cara penggolongan berdasar atas sifat-sifat masalahnya dipergunakan dalam tulisan ini. Berdasarkan atas sifat-sifat masalahnya itu, berbagai macam rancangan penelitian itu dapat digolongkan menjadi Sembilan macam kategori, yaitu:
1.       Penelitian historis,
2.       Penelitian deskriptif,
3.       Penelitian perkembangan,
4.       Penelitian kasus dan penelitian lapangan,
5.       Penelitian korelasional,
6.       Penelitian kausal komparatif,
7.       Penelitian eksperimental sunguuhan,
8.       Penelitian eksperimental semu, dan
9.       Penelitian tindakan.

Rabu, 12 Oktober 2016

Langkah-langkah Pengembangan Instrumen Penelitian

Pengembangan instrumen pengambil data itu berlangsung dalam langkah-langkah yang kurang lebih sudah baku yaitu (1) pengembangan spresifikasi instrumen, (2) penulisan butir-butir pertanyaan atau pernyataan, (3) telaah dan revisi butir-butir pertanyaan atau pernyataan, (4) perakitan butir-butir pertanyaan atau pernyataan ke dalam instrumen,  (5) uij coba instrumen, (6) analisis hasil uji coba, (7) penentuan perangkat akhir instrumen, (8) pengujian reliabilitas dan (9) pengujian validitas.
1.       Pengembangan Spesifikikasi Instrumen
Spesifikasi instrumen adalah rancangan pokok (grand design) instrumen. Segala kegiatan dalam pengembangan instrumen dilakukan berdasar atas spesifikasi itu. Karena itu spesifikasi ini harus digarap secara hati-hati. Spesifikasi itu harus memuat secara lengkap semua hal yang harus dilakukan, dan masing-masing harus disajikan secara spesifik. Hal-hal yang perlu dimuat dalam spesifikasi itu adalah (a) wilayah yang direkam, (b) dasar konseptual atau dasar teoretis yang akan dipakai sebagai landasan, (c) subjek yang akan diambil datanya, (d) tujuan pengambilan data, (e) materi instrumen, (f) tipe butir pertanyaan atau pernyataan, (g) jumlah butir pertanyaan atau pernyataan, (h) kriteria seleksi butir pertanyaan atau perrnyataan yang dianggap baik.
2.       Penulisan Butir-butir Pertanyaan atau Pernyataan
Kemampuan untuk menulis pertanyaan atau pernyataan adalah perpaduan atara kiat dan hasil latihan. Banyak buku-buku yang menyajikan cara-cara untuk menulis butir pertanyaanatau pernyataan. Kaidah-kaidahnya dapat ditemukan dalam buku-buku tersebut yang antara lain juga terdapat pada Daftar Pustaka buku ini. Di antara instrumen pengumpul data untuk atribut kognitif yang paling popular dan karenanya juga paling banyak dipakai adalah tes pilihan ganda dengan lima kemungkinan jawaban. Untuk atribut non kognitif, instrumen yang paling populer dan relatif paling banyak digunakan adalah skala model Likert. Kedua model instrumen itu akan menghasilkan data interval yaitu data yang paling diminati oleh para peneliti karena data interval memungkinkan penggunaan Statistika Parametrik.
3.       Telaah dan Revisi Butir-butir Pertanyaan atau Pernyataan
Butir-butir pertanyaan atau pernyataan itu harus ditelaah secara cermat apakah sudah sesuai dengan yang dirancangkan, dan apakah perlu direvisi. Rujukan pokok dalam telaah ini adalah spesifikasi instrumen. Telaah dan revisi butir-butir pertanyaan atau penyataan ini sebaiknya dilakukan oleh suatu team, akan lebih bagus kalau diselenggarakan dalam semacam seminar, agar butir-butir pertanyaan atau pernyataan itu dapat dicermati dari berbagai aspeknya. Aspek-aspek utama yang perrlu dicermati adalah (a) kesesuaian dengan spesifikiasi, (b) kesesuaian dengan landasan teoretis, (c) kesesuaian dengan format dilihat dari sudut ilmu pengukuran, (d) ketepatan bahasa yang digunakan, dilihat dari sudut bahasa baku dan subjek yang memberikan response.
Guna memudahkan pekerjaan para penelaah, sebaiknya dibuatkan semacam daftar cek. Untuk instrumen pengambil data kogintif, misalnya daftar cek itu adalah sebagai berikut.
Pastikan bahwa:
1.       Kunci jawaban jelas-jelas benar,
2.       Setiap alternative lainnya jelas salah,
3.       Pertanyaan sesuai dengan indikatornya,
4.       Pertanyaan memiliki tingkat kesulitan yang sesuai,
5.       Konsep atau proses yang direkam jelas,
6.       Istilah dan situasi dalam pertanyaan terdefinisi dengan jelas,
7.       Para respponden mampu memahami apa yang diharapkan mereka lakukan,
8.       Pertanyaan ditulis dalam bahasa dan ejaan yang benar,
9.       Struktur tata bahasa untuk semua alternative jawaban konsisten dan sesuai,
10.   Tidak ada pentujuk tentang jawaban yang benar.

4.       Perakitan Butir-butir Pertanyaan atau pernyataan ke dalam Perangkat Instrumen
Butir-butir pertanyaan atau pernyataan itu harus dirakit menjadi satu instrumen yang siap untuk diujicobakan. Hal penting yang harus selalu diingat adalah bahwa response terhadap sesuatu petanyaan tidak boleh mempengaruhi response terhadap pertanyaan lain, karena secara teori masing-masing pertanyaan itu bebas satu sama lain. Dalam perakitan ini sekaligus dirumuskan petunjuk bagaiman caranya eresponse kepada pertanyaan-pertanyaan itu. Instrumen yagn telah dirakit itu kemudian dicetak dan siap untuk duji cobakan.
5.       Uji coba Instrumen
Uji coba merupakan langkah yang sangat penting dalam proses pengembangan instrument, karena dari uij coba inilah diketahui informasi mengenai mutu instrumen yang dikembangkan itu. Syarat utam uji coba adalah bahwa karakteristik subjek uji coba harus sama dengan karakteristik subjek penelitian. Selain itu kondisi uji-coba (misalnya waktu, alat-alat yang dipakai, cara penyelenggaraaan) juga harus sama dengan kondisi penelitian yang sebenarnya. Agar syarat-syarat tersebut dapat terpenuhi maka uji coba instrumen itu harus dipersiapkan secara matang dan dilaksanakan secara professional.
6.        Analisis Hasil Uji Coba
Hasil uji coba itu lalu dianalisis. Butir demi butir pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan itu diteliti kualitasnya. Karena itu analisis ini pada umumnya lalu disebut analisis butir (item analysis). Walaupun pada dasarnya polanya sama, namun analisis butir-butir pertanyaan (untuk atribut kognitif) dan analisis butir-butir pertanyaan (untuk atribut non kognitif) mengandung perbedaan. Perbedaan itu akan nyata dari uraian berikut.
a.       Analisis Butir Pertanyaan
Dalam analisis butir-butir pertanyaan (untuk atribut kognitif) dicari informasi mengenai hal-hal berikut ini.
(1)    Distribusi response,
(2)    Taraf kesukaran, dan
(3)    Daya beda.
Distribusi response diperlukan untuk mengetahui efektif tidaknya alternative-alternatif pengecoh. Taraf kesukaran butir soal diperlukan untuk mengetahui apakah taraf kesukaran butir soal sesuai dengan yang telah direncanakan dalam spesifikasi instrumen. Taraf kesukaran ini biasanya dilambangkan dengan hard p (proporsi yang menjawan benar). Daya beda soal diperlukan untuk mengetahui seberapa akurat butir pertanyaan itu membedakan subjek yang lebih mampu dari subjek yang kurang mampu. Daya beda ini biasa dihitung dengan mencari korelasi antara skor pada butir itu dengan skor total (item total correlation rit). Teknik yang paling sesuai dengan sifat datanya adalah korelasi biserial (biserial correlation, rbis)
Untuk melakukan analisis butir-butir pertanyaan ini telah tersedia berbagai program computer. Program yang banyak digunakan adalah SPSS, atau yang lebih khusus I TEMAN.
b.      Analisis Butir-butir Pernyaaan
Dalam analisis butir-butir pernyataan (misalnya skala model Likert) dicari informasi mengenai (1) diatribusi response dan (2) daya beda butir pernyataan.
Dalam menganalisis butir-butir pernyataan ini dicari informasi apakah butir-butir pernyataan yang dianalisis itu merupakan butir pernyataan yang baik. Butir pernyataan yang baik cirinya adalah (1) semua kemungkinan jawaban terisi dan (2) distribusinya bermodus tunggal (uni modal).

7.       Penentuan Perangkat Akhir Instrumen
Berdasar hasil analisis butir-butir pertanyaan atau pernyataan itu dipilih butir-butir pertanyaan atau pernyataan yang baik sesuai dengan spesifikasi. Untuk butir-butir pertanyaan dipilih butir-butir yang mempunyai harga p pada sebaran tertentu (misalnya dari 0,25 sampai 0,75 atau dari 0,20sampai 0,80) sesuai spesifikasi dan yang mempunyai harga rbis tertentu (misalnya sekurang-kurangnya 0,30 atau sekurang-kurangnya 0,25 atau sekurang-kurangnya 0,20). Butir-butir pertanyaan yang memenuhi kedua kriteria itu dipilih sebagai butir-butir pertanyaan yang baik lalu dirakit menjadi perangkat akhir instrument yang akan digunakan dalam penelitan.
Untuk butir-butir pertanyaan dipilih butir-butir yang memenuhi syarat berdasar distribusi response dan yang mempunyai harga t signifikan (berdasar uji t satu ujung). Butir-butir pernyataan yang memenuhi kedua kriteria itu dipilih sebagai butir-butir pernyataan yang baik dan dirakit menjadi perangkat akhir instrumen yang akan digunakan dalam penelitian.
8.       Pengujian Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas instrumen merujuk kepada konsistensi hasil perekaman data (pengukuran) kalau instrumen itu digunakan oleh orang atau kelompok orang yang sama dalam waktu berlainan atau kalau instrumen itu digunakan oleh orang atau kelompok orang yang berbeda dalam waktu yang sama atau dalam waktu yang berlainan. Karena hasilnya yang konsisten itu, maka instrumen itu dapat dipercaya (reliable) atau dapat diandalkan (dependeable). Secara psikometris diteorikan, reliabilitas sestau instrumen adalah proporsi variansi skor perolehan yang merupakan variansi skor murni.
Ada tiga cara untuk mengestimasi reliabilitas instrumen itu yaitu:
a.       Metode uji ulang (test-retest method)
b.      Metode bentuk parallel (paralled form method), dan
c.       Metode pengujian satu kali (single trial method)
Pada metode uji ulang seperangkat instrumen diberikan kepada sekelompok subjek dua kali, dengan selang waktu tertentu (misalnya dua minggu atau tiga minggu). Lalu skor pada perekaman data yang pertama dan skor pada perekaman data yang kedua itu dikorelasikan. Angka korelasi itulah yang merupakan koefisien reiabilitas, rtt = rI II
Pada metode bentuk parallel disusun dua perangkat instrumen yang paralel (kembar), misalnya perangkat A dan perangkat B. Kedua perangkat instrumen itu diberikan kepada satu kelompok subjek dalam waktu beruntutan, atau dengan selang waktu sedikit skor pada perangkat A dikorelasikan dengan skor pada perangkat B. koefisien korelasi itulah yang merupakan koefisien reliabilitas, rtt = rAB
Kedua metode itu mengandung keterbatasan atau kesulitan, oleh karena itu di dalam praktek jarang peneliti menggunakan kedua metode itu. Para peneliti pada umumnya memilih menggunakan metode pengujian satu kali. Dalam metode pengujian satu kali seperangkat instrumen diberikan kepada sekelompok subjek satu kali, lalu dengan cara tertentu diestimasi reliabilitas instrumen tersebut. Sampai sekarang ada tujuh macam cara yang telah diusulkan oleh para ahli yaitu:
(1)    Metode belah dua (split half method),
(2)    Metode Rulon,
(3)    Metode Flanagan,
(4)    Metode KR20,
(5)    Metode KR21,
(6)    Metode analisis variansi (metode Hoyt), dan
(7)    Metode alpha (Cronbach).
Terkecuali metode belah dua, keenam metode yang lain itu berdasarkan teori bahwa koefisien reliabilitas sama dengan 1 dikurangi variansi kesalahan pengukuran dibagi variasni total (skor perolehan).
Walaupun koefisiensi reliabilitas itu wujudnya adalah koefisien korelasi (karena memang diteorikan berasal dari korelasi antara dua tes parallel), tetapi dalam menginterpretasikannya tidak didasarkan harga kritis r dalam tabel korelasi, melainkan ditafsirkan berdasar galat baku pengukuran (strandart error of measurement).
Dari bermacam-macam teknik untuk mengestimasi reliabilitas instrument itu aman yang terbaik, tidak ada kesepakatan penuh diantara para ahli. Dalam praktek yang terjadi adalah semacam “kesukaan”, yang terkait dengan pengalaman pribadi dan tersedianya program computer. Yang pokok adalah si peneliti harus melaporkan menggunakan teknik mana dan hasilnya berapa, lalu interpretasinya bagaimana.
9.       Pengujian Validitas Instrumen
Validitas instrument didefinisikan “sejauh mana isntrumen itu merekam/mengukur apa yang dimaksudkan untuk direkam/diukur”. Ada tiga landasan untuk melihat sejauh mana itu yaitu (a) didasarkan pada isinya, (b) didasarkan pada kesesuaiannya dengan constructnya dan (c) didasarkan pada keseseuaiannya dengan kriterianya yaitu instrument yang lain yang dimaksud untuk merekam/mengukur hal yang sama. Jadi secara teori ada tiga macam validitas diatas berdasar kriteria. Secara ideal setiap isntrumen pengumpul data penelitian harus memiliki ketiga macam validitas itu. Akan tetapi seringkali keadaan ideal itu belum tentu tercapai, tetapi adalah merupakan kewajiban akademik setiap peneiliti untuk berupaya menegakkan validitas instrument pengumpul datanya, karena seperti telah disebutkan di muka, kualitas isntrumen ini akan sangat menentukan validitas internal penelitian yang dilakukan.
a.       Menegakkan Validitas Isi
Validitas isi ditegakkan pada langkah telaah dan revisi butir pertanyaan/butir pernyataan, berdasarkan pendapat prosefional (professional judgement) para penelaah. Validitas isi secara relative lebih mudah ditegakkan dibandign kedua macam validitas yang lainnya. Sebagai pertanggungjawaban akademik, peneliti wajib menginformasikan secara lengkap proses penegakan validitas isi ini termasuk daftar cek yang digunakan dalam proses validasi serta nama-nama peserta dalam proses itu beserta kualifikasi akademiknya (daftar nama sebaiknya disajikan dalam Lampiran).
b.      Menegakkan Validitas Construct
Sampai sekarang ada dua cara yang telah diusulkan untuk menegakkan validitas rekaan teoretis yaitu (a) discriminant validation melalui multi trait-multi method dan (b) analisis faktor. Teknik multi trait-multi method boleh dikatakan relative baru, dan belum banyak digunakan terutama karena beban kerjanya yang tinggi. Peneliti harus menyiapkan lebih dari satu instrument untuk merekam/mengukur lebih dari satu sifat. Dasar pikiran penerapan cara ini adalah hal-hal yang secara teori berdekatan harus tinggi korelasinya (convergent validation) dan hal-hal yang 

Selasa, 11 Oktober 2016

Interpretasi Hasil Analisis

Hasil analisis boleh dikata masih faktual, dan ini harus diberi arti oleh peneliti. Hasil itu biasa dibandingkan dengan hipotesis penelitian, didiskusikan atau dibahas, dan akhirnya diberi kesimpulannya. Seperti telah pernah disebutkan, peneliti mengharapkan hipotesis penelitiannya tahan uji, yaitu terbukti kebenarannya. Jika yang terjadi memang demikian, bahasan itu mungkin dapat tidak terlalu menonjol peranannya. Tetapi jika hipotesis penelitian itu ternyata tidak tahan uji yaitu ditolak, maka peranan bahasan itu lalu menjadi sangat penting karena peneilit harus dapat menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Peneliti wajib mengeksplorasi segala sumber yang mungkin menjadi sebab tidak terbuktinya hipotesis penelitiannya itu. Beberapa sumber tidak terbuktinya hipotesis penelitian itu dapat dicari antara lain dari jal-hal berikut ini.

a.       Landasan Teori
Mungkin landasan teoriu yang digunakan telah kadaluarsa, kurang valid atau kurang tepat. Hal yang demikian ini dapat terjadi kalau peneliti salah pilih tentang sumber bacaan yang ditelaahnya atau terlalu sedikit membaca, sehingga dia tidak mendapatkan informasi mengenai perkembangan mutakhir dalam bidangnya atau tidak mempunyai landasan teoretis yang cukup kuat untuk merumuskan hipotesisnya.
b.      Sampel
Tidak terbuktinya hipotesis penelitian itu mungkin terjadi karena sampel yang digunakan tidak representative, baik karena sampel itu terlalu kecil ataupun karena sampel tersebut tidak diambl secara rambang. Jika sampel terlalu kecil, mungkin suatu hipotesis alternative tidak terbukti walaupun dalam populasi hipotesis tersebut adalah benar. Jika sampel diambil tidak secara rambang, mungkin sampel itu tidak representative jadi berbeda dari populasinya karena itu hipotesis penelitian tidak terbukti kebenarannya, walaupun dalam populasi hal tersebut adalah benar. Hal yang demikian itu terjadi karena model analisis yang digunakan berdasarkan pada distribusi probabilitas sampel rambang.
c.       Alat pengambil data
Tidak terbuktinya hipotesis penelitian itu mungkin juga bersumber pada alat pengambil data aatau instrument. Jika alat pengambil data tidak reliabel dan tidak valid maka hal yang benar dapat menjadi palsu dan yang palsu dapat terlihat benar. Dengan demikian, hal yang dipotesiskan yang benar tidak terbukti kebenarannya.
d.      Rancangan penelitian
Tidak terbuktinya kebenaran hipotesis penelitian mungkin pula disebabkan karena rancangan penelitian yang digunakan kurang tepat. Rancangan penelitian adalah semacam strategi untuk membuktikan kebenaran hipotesis. Jika yang digunakan bukan rancangan yang seharusnya, kemungkinan besar hipotesisnya tidak terbukti kebenarannya walaupun sebenarnya adalah benar.
e.      Perhitungan-perhitungan
Perhitungan-perhitungan yang salah akan memberikan kesimpulan yang salah. Kesalahan perhitungan ini dapat menjadi sumber tidak terbuktinya hipotesis. Karena itu peneliti setiap kali harus memastikan bahwa perhitungan-perhitungan yang dilakukannya adalah benar.
f.        Variabel-variabel luaran
Pengaruh variabel-variabel luaran (extraneous variables) terhadap data yang diperoleh mungkin demikian besar, sehingga data tersebut bukanlah data yang dimaksudkan. Jika hal yang demikian itu terjadi, dapat berakibat hipotesis penelitian tidak terbukti kebenarannya.
Oleh karena itu peneliti harus mengenal benar-benar berbagai variabel luaran itu dan mengontrolnya sebaik-baiknya.
Dalam hubungan dengan tidak terbuktinya hipotesis penelitian itu dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut ini. Jika sutau hipotesis tidak terbukti kebenarannya, itu tidak berarti bahwa penelitiannya gagal sama sekali. Sesuatu penelitian sering menguji hipotesis, dan tidak terbuktinya satu atau dua hipotesis memang tidak jarang terjadi. Walaupun penelitian hanya menguji satu hipotesis dan kemudian ternyata tidak terbukti kebenarannya itupun tidak berarti bahwa penelitian itu gagal sama sekali. Yang penting adalah peneliti memberikan keterangan dan alasan yang jelas dan kuat mengenai tidak terbuktinya hipotesis itu. Keenam sumber yang telah disebutkan di muka itu dapat dieksplorasi untuk menjelaskan hal tidak terbuktinya hipotesis itu. Hal yang demikian itu memang tidak mudah dilakukan. Karena itu apa yang sebaiknya dilakukan oleh peneliti adalah memperkecil kemungkinan terjadinya hipotesis tidak terbukti kebenarannya itu dengan persiapan yang cermat dan menyeluruh sejak langkah-langkah awal penelitian.
g.       Penyusunan Laporan
Langkah terakhir dalam seluruh proses penelitian adalah ppenyusunan laporan. Laporan ini merupakan langkah yang sangat penting kareana dengan laporan itu syarat keterbukaan ilmu pengetahuan dan penelitian dapat dipenuhi. Melalui laporan itu ilmuwan lain dapat memahami, menilai, kalau perlu menguji kembali hasil-hasil penelitian itu dan dengan demikian pemecahan masalahnya mengalami pemantapan dan kemajuan.
Kecendekiaan seorang penliti akan tercermin dalam laporan penelitian yang disusunnya. Karena itu selayaknyalah peneliti menggarap laporan itu dengan cermat. Laporan harus disusun dan ditulis menurut tatatulis penulisan ilmiah yang lazim. Dewasa ini ada banyak tatatulis penulisan ilmiah yang telah diusulkan orang atau profesi, yang masing-masing dapat dianggap merupakan suatu sistem yang mempunyai pertimbangan-pertimbangan dan alasan-alasan tertentu. Sistem mana yang digunakan tidak merupakan soal, yang penting ialah sekali sesuatu sistem dipilih hendaknya diikuti secara baik, sehingga terdapat konsistensi dalam laporan itu.

Suatu hal yang juga sangat penting dalam laporan penelitian adalah format atau sistematiknya. Pada waktu ini umumnya orang menggunakan format yang disesuaikan dengan langkah-langkah penelitian yang dilakukan. Secara garis besar, sistematik laporan itu dapat berupa sebagai berikut ini.
 Bagian Awal, yang berisi:
  1. Halaman judul;
  2. Halaman pendahuluan;
  3. Halaman daftar isi;
  4. Halaman  daftar tabel (jika ada);
  5. Halaman daftar gambar (jika ada);
  6. Halaman daftar lampiran (jika ada).
Bagian Inti, yang berisi:
  1. Latar belakang masalah;
  2. Tujuan penelitian;
  3. Penelaahan kepustakaan, termasuk perumusan hipotesis (jika tidak disajikan tersendiri);
  4. Hipotesis (jika belum dicakup pada pasal sebelumnya);
  5. Metodologi;
  6. Hasil;
  7. Interpretasi/Diskusi, kesimpulan dan saran-saran.
Bagian Akhir, yang berisi:
  1. Daftar pustaka;
  2. Lampiran-lampiran (jika ada).
Seperti kecakapan dan keterampilan dalam langkah-langkah penelitian yang lain, kemahiran menulis dengan menggunakan tatatulis penulisan ilmiah inipun berkembang memlaui latihan.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Pengolahan dan Analisis Data Penelitian

Data yang terkumpul lalu diolah. Pertama-tama data itu diseleksi atas dasar reliabilitas dan validitasnya. Data yang rendahg reliabilitas dan validitasnya, data yang kurang lengkap digugurkan atau dilengkapi dengan substitusi. Selanjutnya data yang telah lulus dalam seleksi itu lalu diatur dalam tabel, matriks, dan lain-lain agar memudahkan pengolahan selanjutnya. Kalau mungkin pada penyusunan tabel yang pertama itu dibuat tabel induk (master table). Jika tabel induk itu dapat dibuat, maka langkah-langkah selanjutnya akan lebih mudah dikerjakan karena perhitungan-perhitungan dan analisis dapat dilakukan berdasarkan tabel induk itu.

Menganalisis data merupakan suatu langkah yang sangat kritis dalam penelitian. Peneliti harus memastikan pola analisis mana yang akan digunakannya, apakah analisis statistik ataukah analisis non statistik. Pemilihan ini tergantung kepada jenis data yang dikumpulkan. Analisis statistik sesuai dengan data kuantitatif atau data yang dikuantifikasikan, yaitu data dalam bentuk bilanngan, sedang analisis non statistic sesuai untuk data deskriptif atau data textular. Data deskriptif sering hanya dianalisis menurut isinya, dan keran itu analisis macam ini juga disebut analisis isi (content analysis).
Untuk analisis statistic, model analisis yang digunakan harus sesuai dengan rancangan penelitiannya. Dan hal ini seperti telah disebutkan,ditentukan oleh hipotesis yang akan diuji dan tujuan penelitian. Jenis-jenis data yang dianalisis juga ikut menentukan model analisis mana yang tepat untuk digunakan. Untuk mendapatkan gambaran garis besar mengenai berbagai jenis data dan metode analisis yang sesuai data-data tersebut, dapat diperiksa ikhtiar yang disajikan pada Lampiran A.
Mengenai analisis statistic itu lebih lanjut perlu dikemukakan, bahwa masing-masing model atau metode mendasarkan diri kepada asumsi-asumsi tertentu. Agar model atau metode itu berlaku maka perlulah asumsi-asumsi yang mendasarinya dipenuhi.
Hasil analisis statistic akan berwujud angka-angka. Demikian pula hasil uji statistic. Berdasarkan atas angka-angka itulah perlu dibuat keputusan mengenai hasil analisis atau hasil uji itu. Aturan keputusan yang digunakan dapat konvensional, yaitu menyatakan hasil uji hipotesis itu signifikan atau tidak signifikan dalam taraf signifikansi 1 persen, atau 5 persen, dapat pula tidak konvensional yaitu menggunakan batas taraf signifikansi yang mengembang, tidak terikat kepada konvensi 1 persen dan 5 persen itu.

Dari uji statistic yang telah dilakukan akan diperoleh hasil uji dalamdua kemungkinan, seperti disebutkan di bawah ini.
  1. Hubungan antara variabel-variabel penelitian atau perbedaan antara sampel-sampel yang diteliti sangat signifikan (1%) atau signifikan (5%) atau signifikan pada taraf signifikansi sekian persen.
  2. Hubungan antara variabel-variabel penelitian atau perbedaan antara sampel-sampel yang diteliti tidak signifikan.

Dalam kemungkinan hasil yang pertama, besar kemungkinannya bahwa hipotesis alternatifnya diterima dan hipotesis nol ditolak. Menerima hipotesis alternative berarti menyatakan bahwa dugaan tentang adanya saling hubungan atau adanya perbedaan diterima sebagai hal yang benar, karena telah terbukti demikian. Sebaliknya, dalam kemungkinan hasil yang kedua dinyatakan hipotesis alternatif tidak terbukti kebenarannya, karena itu hipotesis nolnya yang diterima.
Dengan telah diambilnya keputusan mengenai penerimaan hipotesis itu analisis statistic telah selesai, tetapi pekerjaan penelitian masih belum berakhir karena keputusan tersebut masih harus diberi interpretasi.

Jumat, 07 Oktober 2016

Pengumpulan Data Penelitian

Seperti telah disebutkan, kualitas data ditentukan oleh kualitas alat pengambil data atau alat pengukurnya. Kalau alat pengambil datanya cukup reliable dan valid, maka datanya juga akan cukup reliable dan valid. Namun masih ada satu hal lagi yang perlu dipertimbangkan, yaitu kualifikasi si pengambil data. Beberapa alat pengambil data mensyaratkan kualifikasi tertentu pada pihak pengambil data. Misalnya beberapa test psikologis tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Beberapa alat laboratorium juga menuntut dasar pendidikan dan pengalaman tertentu untuk dapat mempergunakannya secara benar. Persyaratan ini harus dipenuhi oleh peneliti, jika tidak, mungkin reliabilitas dan validitas data yang terkumpul akan terganggu.

Di samping hal tersebut di atas, prosedur yang dituntut oleh setiap metode pengambilan data yang digunakan harus dipenuhi secara tertib. Pada umumnya setiap alat atau metode pengambilan data mempunyai panduan pelaksanaan. Panduan ini harus sejak awal dipahami oleh peneliti, dan dalam hal peneliti menggunakan jasa oarng lain untuk mengumpulkan data, si peneliti harus mempunyai cara untuk memperoleh keyakinan bahwa pengambilan data itu telah dilaksanakan menurut prosedur yang seharusnya.
Apa yang telah dibicarakan di atas itu ialah seluk beluk pengambilan data primer, yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti (atau petugas-petugasnya) dari sumber pertamanya. Di samping data primer terdapat data sekunder, yang seringkali juga diperlukan oleh peneliti. Data sekunder itu biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen, misalnya data mengenai produktivitas suatu perguruan tinggi, data mengenai persediaan pangan di suatu derah dan sebagainya.

Mengenai data sekunder ini, peneliti tidak banyak dapat berbuat untuk menjamin mutunya. Dalam banyak hal peneliti akan harus menerima menurut apa adanya.