Senin, 17 Oktober 2016

Penelitian Historis

Tujuan
Tujuan penelitian historis adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan serta mensistesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat. Seringkali penellitian yang demikian itu berkaitan dengan hipotesis-hipotesis tertentu.

Contoh
Studi mengenai praktik “bawon” di daerah pedesaan di Jawa Tengah yang bermaksud memahami dasar-dasarnya di waktu yang lampau serta relevansinya untuk waktu kini, studi ini dimaksudkan juga untuk mentest hipotesis bahwa nilai-nilai social tertentu serta rasa solidaritas memainkan peranan penting dalam berbagai kegiatan ekonomi pedesaan.
Ciri-ciri
1.       Penelitian historis lebih tergantung kepada data yang diobservasi orang lain daripada yang diobservai oleh peneliti sendiri. Data yang baik akan dihasilkan oleh kerja yang cermat yang menganalisis keotentikan, ketepatan dan pentingnya sumber-sumbernya.
2.       Berlainan dengan anggapan yang populer, penelitian historis haruslah tertib-ketat, sistematis dan tuntas, seringkali penelitian yang dikatakan sebagai suatu penelitian historis hanyalah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliabel dan berat sebelah.
3.       Penelitian historis tergantung kepada dua macam data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari sumber primer yaitu si peneliti (penulis) secara langsung melakukan observasi atau penyaksian kejadian-kejadian yang dituliskan. Data sekunder diperoleh dari sumber sekunder yaitu peneliti melaporkan hasil observasi orang lain yang satu kali atau lebih telah lepas dari kejadian aslinya. Di antara, keduasumber itu, sumber primer dipandang sebagai memiliki otoritas sebagai bukti tangan pertama, dan diberi prioritas dalam pengumpulan data.
4.       Untuk menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam kritik yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal menanyakan “Apakah dokumen relik itu otentik”, sedang kritik internal menanyakan “Apabila data itu otentik, apakah data tersebut akurat dan relevan?”. Kritik internal harus menguji motif, keberat sebelahan dan keterbatasan si penulis yang mungkin melebih-lebihkan atau mengabaikan sesuatu dan memberikan informasi yang terpalsu. Evaluasi kritis inilah yang menyebabkan “penelitian historis” itu sangat tertib ketat yang dalam banyak hal lebih demanding daripada studi eksperimental.
5.       Walaupun penellitian historis mirip dengan penelahaan kepustakaan yang mendahului lain-lain bentuk rancangan penelitian, namun cara pendekatan historis adalah lebih tuntas, mencari informasi dari sumber yang lebih luas.penelitian historis juga menggali informasi-informasi yang lebih tua daripada yang umum dituntut dalam penelaahan kepustakaan dan banyak juga menggali bahan-bahan tak diterbitkan yang tak dikutip dalam bahan acuan yang standard.
Langkah-langkah Pokok
1.       Definisikan masalah. Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada diri sendiri:
  • Apakah cara pendekatan historis ini merupakan yang terbaik bagi masalah yang sedang digarap?
  • Apakah data penting yang diperlukan mungkin didapat?
  • Apakah hasilnya nanti mempunyai cukup kegunaan?

2.    Rumuskan tujuan penelitian dan jika mungkin rumuskan hipotesis yang akan memberi arah dan fokus bagi kegiatan penelitian itu.
3.     Kumpulkan data, dengan selalu mengingat perbedaan antara sumber primer dan sumber sekunder.
Suatu keterampilan yang sangat penting dalam penelitian historis adalah cara pencatatan data: dengan sistem kartu atau dengan sistem lembaran, kedua-duanya dapat dilakukan.
4.     Evaluasi data yang diperoleh dengan melakukan kritik eksternal dan kritik internal.
5.    Tuliskan laporan.

Artikel Terkait

Penelitian Historis
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email