Selasa, 11 Oktober 2016

Interpretasi Hasil Analisis

Hasil analisis boleh dikata masih faktual, dan ini harus diberi arti oleh peneliti. Hasil itu biasa dibandingkan dengan hipotesis penelitian, didiskusikan atau dibahas, dan akhirnya diberi kesimpulannya. Seperti telah pernah disebutkan, peneliti mengharapkan hipotesis penelitiannya tahan uji, yaitu terbukti kebenarannya. Jika yang terjadi memang demikian, bahasan itu mungkin dapat tidak terlalu menonjol peranannya. Tetapi jika hipotesis penelitian itu ternyata tidak tahan uji yaitu ditolak, maka peranan bahasan itu lalu menjadi sangat penting karena peneilit harus dapat menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Peneliti wajib mengeksplorasi segala sumber yang mungkin menjadi sebab tidak terbuktinya hipotesis penelitiannya itu. Beberapa sumber tidak terbuktinya hipotesis penelitian itu dapat dicari antara lain dari jal-hal berikut ini.

a.       Landasan Teori
Mungkin landasan teoriu yang digunakan telah kadaluarsa, kurang valid atau kurang tepat. Hal yang demikian ini dapat terjadi kalau peneliti salah pilih tentang sumber bacaan yang ditelaahnya atau terlalu sedikit membaca, sehingga dia tidak mendapatkan informasi mengenai perkembangan mutakhir dalam bidangnya atau tidak mempunyai landasan teoretis yang cukup kuat untuk merumuskan hipotesisnya.
b.      Sampel
Tidak terbuktinya hipotesis penelitian itu mungkin terjadi karena sampel yang digunakan tidak representative, baik karena sampel itu terlalu kecil ataupun karena sampel tersebut tidak diambl secara rambang. Jika sampel terlalu kecil, mungkin suatu hipotesis alternative tidak terbukti walaupun dalam populasi hipotesis tersebut adalah benar. Jika sampel diambil tidak secara rambang, mungkin sampel itu tidak representative jadi berbeda dari populasinya karena itu hipotesis penelitian tidak terbukti kebenarannya, walaupun dalam populasi hal tersebut adalah benar. Hal yang demikian itu terjadi karena model analisis yang digunakan berdasarkan pada distribusi probabilitas sampel rambang.
c.       Alat pengambil data
Tidak terbuktinya hipotesis penelitian itu mungkin juga bersumber pada alat pengambil data aatau instrument. Jika alat pengambil data tidak reliabel dan tidak valid maka hal yang benar dapat menjadi palsu dan yang palsu dapat terlihat benar. Dengan demikian, hal yang dipotesiskan yang benar tidak terbukti kebenarannya.
d.      Rancangan penelitian
Tidak terbuktinya kebenaran hipotesis penelitian mungkin pula disebabkan karena rancangan penelitian yang digunakan kurang tepat. Rancangan penelitian adalah semacam strategi untuk membuktikan kebenaran hipotesis. Jika yang digunakan bukan rancangan yang seharusnya, kemungkinan besar hipotesisnya tidak terbukti kebenarannya walaupun sebenarnya adalah benar.
e.      Perhitungan-perhitungan
Perhitungan-perhitungan yang salah akan memberikan kesimpulan yang salah. Kesalahan perhitungan ini dapat menjadi sumber tidak terbuktinya hipotesis. Karena itu peneliti setiap kali harus memastikan bahwa perhitungan-perhitungan yang dilakukannya adalah benar.
f.        Variabel-variabel luaran
Pengaruh variabel-variabel luaran (extraneous variables) terhadap data yang diperoleh mungkin demikian besar, sehingga data tersebut bukanlah data yang dimaksudkan. Jika hal yang demikian itu terjadi, dapat berakibat hipotesis penelitian tidak terbukti kebenarannya.
Oleh karena itu peneliti harus mengenal benar-benar berbagai variabel luaran itu dan mengontrolnya sebaik-baiknya.
Dalam hubungan dengan tidak terbuktinya hipotesis penelitian itu dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut ini. Jika sutau hipotesis tidak terbukti kebenarannya, itu tidak berarti bahwa penelitiannya gagal sama sekali. Sesuatu penelitian sering menguji hipotesis, dan tidak terbuktinya satu atau dua hipotesis memang tidak jarang terjadi. Walaupun penelitian hanya menguji satu hipotesis dan kemudian ternyata tidak terbukti kebenarannya itupun tidak berarti bahwa penelitian itu gagal sama sekali. Yang penting adalah peneliti memberikan keterangan dan alasan yang jelas dan kuat mengenai tidak terbuktinya hipotesis itu. Keenam sumber yang telah disebutkan di muka itu dapat dieksplorasi untuk menjelaskan hal tidak terbuktinya hipotesis itu. Hal yang demikian itu memang tidak mudah dilakukan. Karena itu apa yang sebaiknya dilakukan oleh peneliti adalah memperkecil kemungkinan terjadinya hipotesis tidak terbukti kebenarannya itu dengan persiapan yang cermat dan menyeluruh sejak langkah-langkah awal penelitian.
g.       Penyusunan Laporan
Langkah terakhir dalam seluruh proses penelitian adalah ppenyusunan laporan. Laporan ini merupakan langkah yang sangat penting kareana dengan laporan itu syarat keterbukaan ilmu pengetahuan dan penelitian dapat dipenuhi. Melalui laporan itu ilmuwan lain dapat memahami, menilai, kalau perlu menguji kembali hasil-hasil penelitian itu dan dengan demikian pemecahan masalahnya mengalami pemantapan dan kemajuan.
Kecendekiaan seorang penliti akan tercermin dalam laporan penelitian yang disusunnya. Karena itu selayaknyalah peneliti menggarap laporan itu dengan cermat. Laporan harus disusun dan ditulis menurut tatatulis penulisan ilmiah yang lazim. Dewasa ini ada banyak tatatulis penulisan ilmiah yang telah diusulkan orang atau profesi, yang masing-masing dapat dianggap merupakan suatu sistem yang mempunyai pertimbangan-pertimbangan dan alasan-alasan tertentu. Sistem mana yang digunakan tidak merupakan soal, yang penting ialah sekali sesuatu sistem dipilih hendaknya diikuti secara baik, sehingga terdapat konsistensi dalam laporan itu.

Suatu hal yang juga sangat penting dalam laporan penelitian adalah format atau sistematiknya. Pada waktu ini umumnya orang menggunakan format yang disesuaikan dengan langkah-langkah penelitian yang dilakukan. Secara garis besar, sistematik laporan itu dapat berupa sebagai berikut ini.
 Bagian Awal, yang berisi:
  1. Halaman judul;
  2. Halaman pendahuluan;
  3. Halaman daftar isi;
  4. Halaman  daftar tabel (jika ada);
  5. Halaman daftar gambar (jika ada);
  6. Halaman daftar lampiran (jika ada).
Bagian Inti, yang berisi:
  1. Latar belakang masalah;
  2. Tujuan penelitian;
  3. Penelaahan kepustakaan, termasuk perumusan hipotesis (jika tidak disajikan tersendiri);
  4. Hipotesis (jika belum dicakup pada pasal sebelumnya);
  5. Metodologi;
  6. Hasil;
  7. Interpretasi/Diskusi, kesimpulan dan saran-saran.
Bagian Akhir, yang berisi:
  1. Daftar pustaka;
  2. Lampiran-lampiran (jika ada).
Seperti kecakapan dan keterampilan dalam langkah-langkah penelitian yang lain, kemahiran menulis dengan menggunakan tatatulis penulisan ilmiah inipun berkembang memlaui latihan.

Artikel Terkait

Interpretasi Hasil Analisis
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email