Selasa, 25 Oktober 2016

Penelitian Tindakan

Tujuan
Penelitian tindakan bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain.


Contoh-contoh
Suatu program inservice untuk melatih para konselor bekerja dengan anak putus sekolah; untuk menyusun program penjajagan dalam pencegahan kecelakaan pada pendidikan pengemudi, untuk memecahkan masalah apatisme dalam penggunaan teknologi modern atau metode menanam padi yang inovatif.

Ciri-ciri
1.      Praktis dan langsung relevan untuk situasi aktual dalam dunia kerja.
2.  Menyediakan rangka kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan perkembangan-perkembangan baru, yang lebih baik daripada cara pendekatan impresionistik dan fragmentaris. Cara penelitian ini juga empiris dalam artian bahwa penelitian tersebut mendasarkan diri kepada observasi aktual dan data mengenai tingkah laku dan tidak  berdasar pada pendapat subjektif yang didasarkan pada pengalaman masa lampau.
3. Fleksibel dan adaptif, membolehkan perubahan-perubahan selama masa penulisannya dan mengorbankan kontrol untuk kepentingan on the spot experimentation dan inovasi.
4.   Walaupun berusaha supaya sistematis namun penelitian tindakan kekurangan ketertiban ilmiah, karenanya validitas internal dan eksternalnya adalah lemah. Tujuannya situasional sampelnya terbatas dan tidak representative dan kontrolnya terhadap variabel bebas sangat kecil. Karena itu hasil-hasilnya walaupun berguna untuk dimensi praktis, namun tidak secara langsung memberi sumbangan kepada ilmunya.

Langkah-langkah Pokok
1.   Definisikan masalahnya atau tetapkan tujuannya. Apa yang kiranya memerlukan perbaikan atau yang mungkin berkembang sebagai keterampilan baru atau cara penyelesaian baru.
2.  Lakukan penelaahan kepustakaan untuk mengetahui apakah orang-orang lain telah menjumpai masalah yang sama atau telah mencapai tujuan yang berhubungan dengan yang akan dicapai dalam penelitian itu.
3.   Rumuskan hipotesis atau strategi pendekatan dengan menyatakannya dalam bahasa yang jelas, spesifik.
4.  Aturlah research setting nya dan jelaskan prosedur serta kondisi-kondisinya. Apakah hal-hal khusus yang akan dikerjakan dalam usaha untuk mendapatkan umpan balik yang diinginkan?
5.   Tentukan kriteria evaluasi, teknik pengukuran, dan lain-lain sarana untuk mendapatkan umpan balik yang berguna.
6.       Analisis data yang terkumpul dan evaluasi hasilnya.
7.       Tuliskan laporannya.

Penelitian Eksperimental Semu

Tujuan
Tujuan penelitian eksperimental semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi infomrasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan semua variabel yang relevan. Si peneliti harus dengan jelas mengerti kompromi-kompromi apa yang ada pada internal validity dan external validity rancangannya dan berbuat sesuai dengan ketrbatasn-keterbatasan tersebut.


Contoh-contoh
1.     Penelitian untuk menyelidiki efek dua macam cara menghafal (spaced vs massed practice) dalam menghafal suatu daftar kata-kata asing pada empat buah SMU tanpa dapat menemukan penempatan murid-murid pada perlakuan secara random atau mengawasi waktu-waktu latihannya secara cermat.
2.       Penelitian untuk menilai keefektifan tiga cara mengajar konsep-konsep dasar dan prinsip ekonomi di SD apabila guru-guru tertentu dapat secara sukarela menjalankan pengajaran itu karena tertarik akan bahannya.
3.  Penelitian pendidikan yang menggunakan pretest posttest, yang didalamnya variabel-variabel seperti kematangan, efek testing regresi statistic, atrisi selektif, dan adaptasi tidak dapat dihindari atau justru terlewat dari penelitian.
4.   Berbagai penelitian mengenai berbagai problem sosial seperti kenakalan, keresahan, merokok, jumlah penderita penyakit jantung dan sebagainya, yang didalamnya kontrol dan manipulasi tidak selalu dapat dilakukan.

Ciri-ciri
1.    Penelitian eksperimental semu secara khas mengenai keadaan praktis, yang didalamnya adalah tidak mungkin untuk mengontrol semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari variabel-variabel tersebut. Si peneliti mengusahakan untuk sampai sedekat mungkin dengan ketertiban penelitian eksperimental yang sebenarnya, dengan hati-hati menunjukkan perkecualian dan keterbatasannya. Karena itu, penelitian ini ditandai oleh metode kontrol parsial berdasar atas identifikasi secara hati-hati mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi internal validity dan external validity.
2.   Perbedaan antara penelitian eksperimental sungguhan dengan penelitian eksperimental semu adalah kecil terutama kalau yang dipergunakan sebagai subjek adalah manusia misalnya dalam psikologi.
3.   Walaupun penelitian tindakan cepat dapat mempunyai status eksperimental semu namun seringkali penelitian tersebut sangat tidak formal, sehingga perlu diberri kategori tersendiri. Sekali rencana penelitian telah dengan sistematis menguji masalah validitas, bergerak menjauhi alam intuitif dan penjelajahan makan permulaan metode eksperimental telah mulai terwujud.

Langkah-langkah Pokok

Langkah-langkah pokok dalam melaksanakan penelitian eksperimental semua adalah sama dengan langkah-langkah dalam melakukan penelitian eksperimental sungguhan, dengan pengakuan secara teliti terhadap masing-masing keterbatasan dalam hal validitas internal dan eksternal.

Senin, 24 Oktober 2016

Penelitian Eksperimental Sungguhan

Tujuan
Tujuan penelitian eksperimental sungguhan adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubbungan sebab akibat dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.

Contoh-contoh
  1. Penelitian untuk menyelidiki pengaruh dua metode mengejar sejarah pada murid-murid kelas III SMU sebagai fungsi ukuran kelas (besar dan kecil) dan taraf intelelegensi murid (tinggi, sedang, rendah) dengan cara menempatkan guru secara random berdasarkan intelegensi, ukuran kelas, dan metode mengajar.
  2. Penelitian untuk menyelidiki efek program pencegahan penyalahgunaan obat terhadap sikap murid-murid SLTP, dengan menggunakan kelompok eksperimen (yang diperkenalkan dengan program itu), dan dengan menggunakan rancangan pretest posttest dimana hanya separo dari murid-murid itu secara random menerima pretest untuk menemukan seberapa besarnya perubahan sikap itu dapat dikatakan disebabkan oleh pretesting atau oleh program pendidikan.
  3. Penelitian untuk menyelidiki efek pemberian tambahan makanan di sekolah kepada murid-murid SD di suatu daerah dengan memperhatikan keadaan sosial ekonomi orang tua dan taraf intelegensi.



Ciri-ciri experimental designs
  1. Menuntut pengaturan variabel-variabel dan kondisi-kondisi ekperimental secara tertib ketat, baik dengan kontrol atau manipulasi langsung maupun dengan randomisasi (pengaturan secara rambang).
  2. Secara khas menggunakan kelompok kontrol sebagai “garis dasar” untuk dibandingkan dengan kelompok yang dikenai perlakuan eksperimental.
  3. Memusatkan usaha pada pengontrolan variansi: a. Untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian; b. Untuk meminimalkan variansi variabel pengganggu atau yang tidak diinginkan yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen tetapi yang tidak menjadi tujuan penelitan; c. Untuk meminimalkan variansi kekliruan atau variansi rambang termasuk apa yang disebut kekliruan pengukuran.
  4. Penyelesaian terbaik: pemilihan subjek secara rambang, penempatan subjek dalam kelompok-kelompok secara rambang, penentuan perlakuan eksperimnetal kepada kelompok secara rambang.
  5. Internal validity adalah sine qua non untuk rancangan ini dan merupakan tujuan pertama metode eksperimental. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: Apakah manipulasi eksperimental pada studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan?
  6. Tujuan kedua metode eksperimental adalah external validity yang menanyakan persoalan: Seberapa representatifkah penemuan-penemuan penelitian ini dan seberapa jauh hasil-hasilnya dapat digeneralisasikan kepada subjek-subjek atau kondisi-kondisi yang semacam?
  7. Dalam rancangan eksperimental yang klasik, semua variabel penting diusahakan agar konstan kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi. Kemajuan-kemajuan dalam metodologi, misalnya rancangan factorial dan analisis variansi telah memungkinkan peneliti untuk memanipulasikan atau membiarkan bervariasi lebih dari satu variabel, dan sekaligus menggunakan lebih dari satu kelompok eksperimental. Hal-hal yang demikian itu memungkinkan peneliti untuk secara serempak menentukan (1) efek variabel bebas utama (perlakuan), (2) variasi yang berkaitan dengan variabel yang digunakan untuk membuat klasifikasi dan (3) interaksi antara kombinasi variabel bebas dan atau variabel yang digunakan untuk membuat klasifikasi tertentu.
  8. Walaupun cara pendekatan ekperimental itu adalah yang paling kuat karena cara ini memungkinkan untuk mengontrol varaibel-variabel yang relevan, namun cara ini juga paling restriktif dan dibuat-buat (artificial). Ciri inilah yang merupakan kelemahan utama kalau metode ini dikenakan kepada manusia dalam dunianya, karena manusia sering berbuat lain apabila tingkah lakunya dibatasi secara artifisial, dimanipulasikan atau diobservasi secara sistematis atau dievaluasi.
Langkah-langkah Pokok
1.       Lakukan survai kepustakaan yang relevan bagi masalah yang akan digarap.
2.       Identifikasi dan definisikan masalah.
3.       Rumuskan hipotesis, berdasarkan atas penelaahan kepustakaan.
4.       Definisikan pengertian-pengertian dasar dan variabel-veriabel utama.
5.       Susun rencana eksperimen:
a.       Identifikasi bermacam-macam variabel yang relevan.
b.      Identifikasi variabel-variabel non eksperimental yang mungkin mencemarkan eksperimen dan tentukan bagaimana caranya mengontrol variabel-variabel tersebut.
c.       Tentukan rancangan eksperimennya.
d.      Pilih subjek yang representative bagi populasi tertentu, tentukan siapa-siapa yang masuk kelompok kontrol dan siapa-siapa yang masuk kelompok eksperimen.
e.      Terapkan perlakuan
f.        Pilih atau susun alat untuk mengukur hasil eksperimen dan validasikan alat tersebut.
g.       Rancangkan prosedur pengumpulan data dan jika mungkin lakukan pilot atau trial run test untuk menyempurnakan alat pengukur atau rancangan ekperimennya.
h.      Rumuskan hipotesis nolnya.
6.       Laksanakan eksperimen.
7.       Aturlah data kasar itu dalam cara yang mempermudah analisis selanjutnya, tempatkan dalam rancangan yang memungkinkan memperhitungkan efek yang diperkirakan akan ada.
8.       Terapkan test signifikansi untuk menentukan taraf signifikansi hasilnya.
9.       Buatlah interpretasi mengenai hasil testing itu berikan diskusi seperlunya dan tulislah laporannya.
Karena metode eksperimen itu sangat penting peranannya dalam dunia Metodologi Penelitian, maka pada bab berikut hal tersebut akan disajikan dengan lebih lengkap.

Minggu, 23 Oktober 2016

Penelitian Kausal Komparatif

Tujuan
Tujuan penelitian kausal komparatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara: berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu. Hal ini berlainan dengan metode ekperimental yang mengumpulkan datanya pada waktu kini dalam kondisi yang dikontrol.


Contoh-contoh
  1. Penelitian mengenai faktor-faktor yang menjadi ciri-ciri pribadi yang gampang dan tidak gampang mendapat kecelakaan dengan menggunakan data yang berwujud catatan-catatan yang ada pada perusahaan asuransi.
  2. Mencari pola tingkah laku dan prestasi belajar yang berkaitan dengan perbedaan umur pada waktu masuk sekolah,dengan cara menggunakan data deskriptif mengenai tingkah laku dan skor test prestasi belajar yang terkumpul sampai anak-anak yang bersangkutan kelas VI SD.
  3. Penelitian untuk menentukan ciri-ciri guruyang efektif dengan memperhitungkan data yang berupa catatan menegnai sejarah pekerjaan selengkap mungkin.


Ciri-ciri pokok

Penelitian kausal komparatif bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti mengambil satu atau lebih akkibat (sebagai “dependent variables”) dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab akibat, saling hubungan dan maknanya.

Keunggulan-keunggulan:
1.   Metode kausal komparatif adalah baik untuk berbagai keadaan kalau meotde yang lebih kuat, yaitu metode ekspreimnetasi, tak dapat digunakan:
  • Apabila tidak selalu mungkin untuk memilih, mengontrol, dan memanipulasikan faktor-faktor yang perlu untuk menyelidiki hubungan sebab akibat secara langsung.
  • Apabila pengontrolan terhadap semua variabel kecuali variabel bebas sangat tidak relaistik dan dibuat-buat, yang mencegah interaksi normal dengan lain-lain variabel yang berpengaruh.
  • Apabila kontrol di laboratorium untuk berbagai tujuan penelitian adalah tidak praktis, terlalu mahal atau dipandang dari segi etika siragukan/dipertanyakan.

2.    Studi kausal komparatif menghasilkan informasi yang sangat berguna mengenai sifat-sifat gejala yang dipesoalkan: apa sejalan dengan apa, dalam kondisi apa, pada perurutan dan pola yang bagaimana, dan sejenis dengan itu.
3.   Perbaikan-perbaikan dalam hal teknik, metode statistik, dan rancangan dengan kontrol parsial, pada akhir-akhir ini telah membuat studi kausal komparatif itu lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Kelemahan-kelemahan
  1. Kelemahan utama setiap rancangan ex post facto adalah tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas. Dalam batas-batas pemilihan yang dapat dilakukan, penelitian harus mengambil fakta-fakta yang dijumpainya tanpa kesempatan untuk mengatur kndisi-kondisinya atau memanipulasikan variabel-variabel yang mempengaruhi fakta-fakta yang dijumpainya itu. Untuk dapat mencapai kesimpulan yang sehat, peneliti harus mempertimbangkan segala alasan yang mungkin ada atau hipotesis-hipotesis saingan yang mungkin diajukan yang mungkin mempengaruhi hasil-hasil yang dicapai. Sejauh peneliti dapat dengan sukses membuat justifikasi kesimpulannya terhadap alternative-alternatif lain itu, dia ada dalam posisi yang secara relative kuat.
  2. Adalah sukar untuk memperoleh kepastian bahwa faktor-faktor penyebab yang relevan telah benar-benar tercakup dalam kelompok faktor-faktor yang sedang diselidiki.
  3. Kenyataan bahwa faktor-faktor penyebab bukanlah faktor tunggal, melainkan kombinasi dan interaksi antara berbagai faktor dalam kondisi tertentu untuk menghasilkan efek yang disaksikan, menyebabkan soalnya sangat kompleks.
  4. Suatu gejala mungkin tidak hanya merupakan akibat dari sebab-sebab ganda tetapi dapat pula disebabkan oleh sesuatu sebab pada kejadian tertentu dan oleh lain sebab pada kejadian lain.
  5. Apabila saling hubungan antara dua variabel telah diketemukan, mungkin sukar untuk menetukan mana yang sebab dan mana yang akibat.
  6. Kenyataan bahwa dua atau lebih faktor saling berhubungan tidaklah mesti memberi implikasi adanya hubungan sebab akibat. Kenyataan itu mungkin hanyalah karean faktor-faktor tersebut berkaitan dengan faktor lain yang tidak diketahui atau tidak terobservasi.
  7. Menggolong-golongkan subjek ke dalam kategori dikotomi (misalnya golongan pandai dan golongan bodoh) untuk tujuan perbandingan, menimbulkan persoalan-persoalan, karena kategori-kategori semacam itu sifatnya kabur, bervariasi, dan tak mantap. Seringkali penelitian yang demikian itu tidak menghasilkan penemuan yang berguna.
  8. Studi komparatif dalam situasi alami tidak memungkinkan pemilihan subjek secara terkontrol. Menempatkan kelompok yang telah ada yang mempunyai kesamaan dalam berbagai hal kecuali dalam hal dihadapkannya kepada variabel bebas adalah sangat sukar.


Langkah-langkah Pokok
1.       Definisikan masalah.
2.       Lakukan penelaahan kepustakaan.
3.       Rumuskan hipotesis-hipotesis.
4.   Rumuskan asumsi-asumsi yang mendasari hipotesis-hipotesis itu serta prosedur-prosedur yang akan digunakan.
5.       Rancang cara pendekatannya:
a.       Pilihlah subjek-subjek yang akan digunakan serta sumber-sumber yang relevan;
b.      Pilihlah atau susunlah teknik yang akan digunakan untuk mengumpulkan data;
c.       Tentukan kategori-kategori untuk mengklarifikasikan data yang jelas, sesuai dengan tujuan studi dan dapat menunjukkan kesamaan atau saling hubungan.
6.    Validasikan teknik untuk mengumpulkan data itu, dan interpretasikan hasilnya dalam cara yang jelas dan cermat.
7.       Kumpulkan dan analisis data.
8.       Susun laporannya.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Penelitian Korelasional

Tujuan

Tujuan penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi.

Contoh-contoh
  1. Studi yang mempelajari saling hubungan antara skor pada test masuk perguruan tinggi dengan indeks prestasi.
  2. Studi secara analisis faktor mengenai beberapa test kepribadian.
  3. Studi untuk meramalkan keberhasilan belajar berdasarkan atas skor pada test bakat.



Ciri-ciri
  1. Penelitian macam ini cocok dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti rumit dan/atau tak dapat diteliti dengan metode eksperimental atau tak dapat dimanipulasikan.
  2. Studi macam ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya secara serentak dalam keadaan realistiknya.
  3. Apa yang diperoleh adalah taraf atau tinggi rendahnya saling hubungan dan bukan ada atau tidak adanya saling hubungan tersebut.
  4. Hal ini berbeda misalnya dengan pada penelitian eksperimental, yang dapat memperoleh hasil mengenai ada atau tidak adanya efek tertentu.
  5. Penelitian korelasional mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain adalah sebagai berikut:

  • Hasilnya cuma mengidentifikasikan apa sejalan dengan apa, tidak mesti menunjukkan saling hubungan yang bersifat kausal.
  • Jika dibandingkan dengan penelitian eksperimental, penelitian korelasional itu kurang tertib ketat, karena kurang melakukan kontrol terhadap varaibel-variabel bebas.
  • Pola saling hubungan itu sering tidak menentu dan kabur.
  • Sering merangsang penggunaannya sebagai semacam short gun approach, yaitu memasukkan berbagai data tanpa pilih-pilih dan menggunakan setiap interpretasi yang berguna atau bermakna.

Langkah-langkah Pokok
1.       Definisikan masalah.
2.       Lakukan penelaahan kepustakaan.
3.       Rancangkan cara pendekatannya.
a.       Identifikasikan variabel-variabel yang relevan;
b.      Tentukan subjeknya yang sebaik-baiknya;
c.       Pilih atau susun alat pengukur yang cocok;
d.      Pilih metode korelasional yang cocok untuk masalah yang sedang digarap.
4.       Kumpulkan data.
5.       Analisis data yang telah terkumpul dan buat interpretasinya.
6.       Tuliskan laporan.

Jumat, 21 Oktober 2016

Penelitian Kasus dan Penelitian Lapangan

Tujuan
Tujuan penellitian kasus dan penelitian lapangan adalah untuk mempelajari secara insentif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan sesuatu unit sosial: individu, kelompok, lembaga atau masyarakat.

Contoh-contoh
  1. Studi-studi yang dilakukan Piaget mengenai perkembangan kognitif pada anak-anak.
  2. Studi secara mendalam mengenai seorang anak yang mrngalami ketidakmampuan belajar yang dilakukan oleh seorang ahli psikologi.
  3. Studi secara intensif mengenai kebudayaan “kota dalam” serta kondisi-kondisi kehidupannya pada suatu kota metropolitan.
  4. Studi lapangan yang tuntas mengenai kebudayaan kelompok-kelompok masyaraka terpencil.

Ciri-ciri
  1. Penelitian kasus adalah penelitian mendalam mengenai unit sosial tertentu yang hasilnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisasi baik mengenai unit tersebut. Tergantung kepada tujuannya, ruang lingkup penelitian itu mungkin mencakup keseluruhan siklus kehidupan atau hanya segmen-segmen tertentu saja; studi demikian itu mungkin mengkonsentrasikan diri pada faktor-faktor khusus tertentu atau dapat pula mencakup keseluruhan faktor-faktor dan kejadian-kejadian.
  2. Dibanding dengan studi survey yang cenderung untuk meneliti sejumlah kecil variabel pada unti sampel yang besar, studi kasus cenderung untuk meneliti jumlah unit yang kecil tetapi mengenai variabel-variabel dan kondisi-kondisi yang besar jumlahnya.

Keunggulan
  1. Penelitian-penelitian kasus terutama sangat berguna untuk informasi latar belakang guna perencanaan penelitian yang lebihi besar dalam ilmu-ilmu sosial. Karena studi yang demikian itu instensif sifatnya, studi tersebut menerangi variabel-variabel yang penting, proses-proses dan interaksi-interaksi yang memerlukan perhatian yang lebih luas. Penelitian kasus itu merintis dasar baru dan seringkali merupakan usmber hipotesis-hipotesis untuk penelitian lebih jauh.
  2. Data yang diperoleh dari penelitian-penelitian kasus memberikan contoh-contoh yang berguna untuk memberi ilustrasi mengenai penemuan-penemuan yang digeneralisasikan dengan statistic.

Kelemahan
  1. Kareana fokusnya yang terbatas pada unti-unit yang sedikit jumlahnya, penelitian kasus itu terbatas sifat representatifnya. Studi yang demikian itu tidak memungkinkan generalisasi kepada populasinya, sebelum penelitian lanjutan yang berfokus pada hipotesis-hipotesis tertantu dan menggunakan sampel yang layak selesai dikerjakan.
  2. Penelitian ksus terutama sangat peka terhadap keberatsebelahan subjektif. Kasusnya sendiri mungkin dipilih atas dasar sifat dramatiknya dan bukan atas dasar sifat khasnya; atau karena kasus itu cocok benar dengan konsep yang sebelumnya telah ada pada peneliti. Sejauh pendapat selektif menentukan apakah data tertentu diikutsertakan atau tidak, atau memberikan makna tinggi atau rendah, atau menempatkan data tersebut dalam konteks teretentu dan bukan pada konteks yang lain, makan interpretasi subjektif akan mempengaruhi hasilnya.



Langkah-langkah Pokok
  1. Rumuskan tujuan-tujuan yang akan dicapai. Apakah yang dijadikan unit studi itu dan sifat-sifat, saling hubungan serta proses-proses yang mana yang akan menuntun penelitian?
  2. Rancangkan cara pendekatannya. Bagaimana unit-unit itu akan dipilih? Sumber-sumber data mana yang tersedia? Metode pengumpulan data mana yang akan digunakan?
  3. Kumpulkan dara.
  4. Organisasikan data dan informasi yang diperoleh itu menjadi rekonstruksi unit studi yang koheren dan terpadu secara baik.
  5. Susunlah laporannya dengan sekaligus mendiskusikan makna hasil tersebut.

Rabu, 19 Oktober 2016

Penelitian Perkembangan

Tujuan
Tujuan penelitian perkembangan adalah untuk menyelidiki pola dan perurutan pertumbuhan dan/atau perubahan sebagai fungsi waktu.


Contoh-contoh
1.  Studi-studi longitudinal nengenai pertumbuhan yang secara langsung mengukur sifat-sifat dan laju perubahan-perubahan pada sampel sejumlah anak pada taraf-taraf perkembangan yang berbeda-beda.
2.    Studi-studi cross sectional yang mengukur sifat-sifat dan laju perubahan-perubahan pada sejumlah sampel yang terdiri dari kelompok-kelompok umur yang mewakili taraf perkembangan yang berbeda-beda.
3.  Studi-studi kecenderungan yang dimaksudkan untuk menentukan pola-pola perubahan di masa lampau agar dapat meramalkan pola-pola dan kondisi-kondisi di waktu yang akan datang.

Ciri-ciri
1.  Penelitian perkembangan memusatkan perhatian pada studi mengenai variable-variabel  dan perkembangannya selama beberapa bulan atau beberapa tahun. Tugasnya adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan “Bagaimanakah pola-pola pertumbuhannya, lajunya, arahnya, perurutannya, dan bagaimana berbagai faktor berhubungan satu sama lain dan mempengaruhi sifat-sifat perkembangan itu?”
2.    Masalah sampling dalam studi longitudinal adalah kompleks karena terbatasnya subjek yang dapat diikuti dalam waktu yang lama; berbagai faktor mempengaruhi atrisi dalam studi longitudinal. Apabila soal atrisi dapat diatasi dengan pemilihan sampel pada suatu populasi yang stabil, maka hal yang demikian itu berarti memasukkan keberatsebelahan yang tak dikenal, yang berkaitan dengan populasi yang demikian itu. Lebih dari itu, sekali dimulai, metode longitudinal tidak memungkinkan perbaikan dalam hal-hal teknis tanpa kehilangan kontinuitas metode itu. Dan akhirnya, metode ini menuntut kontinuitas staf dan bantuan biaya untuk jengka waktu yang panjang, sehingga akan tergantung kepada lembaga (biasanya universitas) dan yayasan yang dapat mempertahankan/memenuhi tuntutan yang demikian itu.
3.    Studi-studi cross sectional biasanya meliputi subjek lebih banyak tetapi mencandra faktor-faktor pertunbuhan yang lebih sedikit daripada studi-studi longitudinal. Walaupun metode longitudinal itu adalah satu-satunya metode langsung untuk mempelajari perkembangan manusia, namun cara pendekatan cross sectional lebih murah dan lebih cepat karena kurun waktu yang panjang diganti oleh pengambilan sampel dari berbagai kelompok umur. Dalam metode cross sectional soal sampling adalah rumit karena anak-anak yang sama tidak terlibat dalam berbagai taraf umur, dan kelompok-kelompok umur yang berberda itu mungkin tidak dapat dibandingkan satu sama lain. Untuk membuat generalisasi intrinsik mengenai pola perkembangan dari sampel anak-anak dari peruntutan umur ini mengandungresiko mencampuradukkan perbedaan-perbedaan antar kelompok yang timbul dari proses sampling.
4.   Studi-studi kecenderungan mengandung kelemahan bahwa faktor-faktor yang tak dapat diramalkan mungkin masuk dan memodifikasi atau membuat lkecenderungan yang didasarkan masa lampau menjadi tidak sah. Pada umumnya, ramalan untuk masa yang panjang adalah hanya educated guess, sedang ramalan untuk waktu yang pendek lebih reliabel dan lebih valid.

Langkah-langkah Pokok
1.       Definisikan masalahnya atau rumuskan tujuan-tujuannya.
2.  Lakukan penelaahan kepustakaan untuk menentukan garis dasar informasi yang ada dan memperbandingkan metodologi-metodologi penelitian, termasukalat-alat yang telah ada dan teknik-teknik pengumpulan data yang telah dikembangkan.
3.       Rancangkan cara pendekatan.
4.       Kumpulkan data.
5.       Evaluasi data yang terkumpul.
6.       Susun laporan mengenai hasil evaluasi itu.

Selasa, 18 Oktober 2016

Penelitian Deskriptif

Tujuan
Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat pecandraan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.

Contoh
Beberapa contoh penelitian macam ini adalah:
1.  Survai mengenai pendapat umum untuk menilai sikap para pemilih terhadap encana perubahan tahun pelajaran.
2.       Survai dalam suatu daerah mengenai kebutuhan akan pendidikan keterampilan.
3.       Studi mengenai kebutuhan tenaga kerja akademik pada kurun waktu tertentu.
4.       Penelitian mengenai taraf kehidupan serap pelajar-pelajar SMU.

Ciri-ciri
(1) Secara harfiah, penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencamdraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Dalam arti ini penelitian deskriptif itu adalah akumulasi data dasar dalam cara deksriptif semata-mata tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan, mentest hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dan implikasi, walaupun penelitian yang bertujuan untuk menemukan hal-hal tersebut dapat mencakup juga metode-metode deskriptif.
Tetapi para ahli dalam bidang penelitian tidak ada kesepakatan mengenai apa sebenarnya penelitian deskriptif itu. Sementara ahli memberikan arti penelitian deskriptif itu lebih luas dan mencakup segala macam bentuk penelitian kecuali penelitian historis dan penelitian eksperimental, dalam arti luas biasanya digunakan istilah penelitian survai.
(2)    Tujuan penelitian-penelitian survey:
a.       Untuk mencari informasi faktual yang mendetail yang mencandra gejala yang ada.
b.  Untuk mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan dan praktek-praktek yang sedang berlangsung.
c.       Untuk membuat komparasi dan evaluasi.
d.    Untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh orang-orang lain dalam mengalami masalah atau situasi yang sama, agar dapat belajar dari mereka untuk kepentingan pembuatan rencana dan pengambilan keputusan di masa depan.

Langkah-langkah Pokok
1.    Definisikan dengan jelas dan spesifik tujuan yang akan dicapai. Fakta-fakta dan sifat-sifat apa yang perlu diketemukan.
2.     Rancangkan cara pendekatannya. Bagaimana kiranya data akan dikumpulkan? Bagaimana caranya menentukan sampelnya untuk menjamin supaya sampel sampel representative bagi populasinya? Alat atau teknik observasi apa yang tersedia atau perlu dibuat? Apakah metode pengumpulan data perlu dilatih terlebih dahulu?
3.       Kumpulkan data.
4.       Susun laporan

Senin, 17 Oktober 2016

Penelitian Historis

Tujuan
Tujuan penelitian historis adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan serta mensistesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat. Seringkali penellitian yang demikian itu berkaitan dengan hipotesis-hipotesis tertentu.

Contoh
Studi mengenai praktik “bawon” di daerah pedesaan di Jawa Tengah yang bermaksud memahami dasar-dasarnya di waktu yang lampau serta relevansinya untuk waktu kini, studi ini dimaksudkan juga untuk mentest hipotesis bahwa nilai-nilai social tertentu serta rasa solidaritas memainkan peranan penting dalam berbagai kegiatan ekonomi pedesaan.
Ciri-ciri
1.       Penelitian historis lebih tergantung kepada data yang diobservasi orang lain daripada yang diobservai oleh peneliti sendiri. Data yang baik akan dihasilkan oleh kerja yang cermat yang menganalisis keotentikan, ketepatan dan pentingnya sumber-sumbernya.
2.       Berlainan dengan anggapan yang populer, penelitian historis haruslah tertib-ketat, sistematis dan tuntas, seringkali penelitian yang dikatakan sebagai suatu penelitian historis hanyalah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliabel dan berat sebelah.
3.       Penelitian historis tergantung kepada dua macam data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari sumber primer yaitu si peneliti (penulis) secara langsung melakukan observasi atau penyaksian kejadian-kejadian yang dituliskan. Data sekunder diperoleh dari sumber sekunder yaitu peneliti melaporkan hasil observasi orang lain yang satu kali atau lebih telah lepas dari kejadian aslinya. Di antara, keduasumber itu, sumber primer dipandang sebagai memiliki otoritas sebagai bukti tangan pertama, dan diberi prioritas dalam pengumpulan data.
4.       Untuk menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam kritik yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal menanyakan “Apakah dokumen relik itu otentik”, sedang kritik internal menanyakan “Apabila data itu otentik, apakah data tersebut akurat dan relevan?”. Kritik internal harus menguji motif, keberat sebelahan dan keterbatasan si penulis yang mungkin melebih-lebihkan atau mengabaikan sesuatu dan memberikan informasi yang terpalsu. Evaluasi kritis inilah yang menyebabkan “penelitian historis” itu sangat tertib ketat yang dalam banyak hal lebih demanding daripada studi eksperimental.
5.       Walaupun penellitian historis mirip dengan penelahaan kepustakaan yang mendahului lain-lain bentuk rancangan penelitian, namun cara pendekatan historis adalah lebih tuntas, mencari informasi dari sumber yang lebih luas.penelitian historis juga menggali informasi-informasi yang lebih tua daripada yang umum dituntut dalam penelaahan kepustakaan dan banyak juga menggali bahan-bahan tak diterbitkan yang tak dikutip dalam bahan acuan yang standard.
Langkah-langkah Pokok
1.       Definisikan masalah. Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada diri sendiri:
  • Apakah cara pendekatan historis ini merupakan yang terbaik bagi masalah yang sedang digarap?
  • Apakah data penting yang diperlukan mungkin didapat?
  • Apakah hasilnya nanti mempunyai cukup kegunaan?

2.    Rumuskan tujuan penelitian dan jika mungkin rumuskan hipotesis yang akan memberi arah dan fokus bagi kegiatan penelitian itu.
3.     Kumpulkan data, dengan selalu mengingat perbedaan antara sumber primer dan sumber sekunder.
Suatu keterampilan yang sangat penting dalam penelitian historis adalah cara pencatatan data: dengan sistem kartu atau dengan sistem lembaran, kedua-duanya dapat dilakukan.
4.     Evaluasi data yang diperoleh dengan melakukan kritik eksternal dan kritik internal.
5.    Tuliskan laporan.

Minggu, 16 Oktober 2016

Macam-Macam Penelitian

Dalam melakukan penelitian, orang dapat menggunakan berbagai macam metode, dan sejalan dengannya rancangan penelitian yang digunakan juga dapat bermacam-macam. Untuk menyusun sesuatu rancangan penelitian yang baik perlulah berbagai persolan dipertimbangkan. Petanyaan-pertanyaan berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan pokok yang perlu dijawab dalam setiap usaha untuk menyusun suatu rancangan penelitian:
a.       Cara pendekatan apa yang akan dipakai?
b.      Metode apa yang akan dipakai?
c.       Strategi apa yang kiranya paling efektif?
Keputusan mengenai rancangan apa yang akan dipakai akan tergantung kepada tujuan penelitian, sifat masalah yang akan digarap, dan berbagai alternative yang mungkin digunakan. Apabila tujuan penelitian telah dispesifikasikan, maka penelitian itu telah mempunyai ruang lingkup dan arah yang jelas, dan karenanya perhatian dapat diarahkan kepada “target area” yang terbatas. Selanjutnya, sifat masalah akan memainkan peranan utama dalam menentukan cara-cara pendekatan yang cocok, yang selanjutnya akan menentukan rancangan penelitiannya. 

Pada waktu ini bermacam-macam rancangan penelitian telah dikembangkan orang dan untuk mengikhtisarkan berbagai rancangan tersebut berbagai cara penggolongan telah pula diusulkan. Salah satu di antara cara-cara penggolongan berdasar atas sifat-sifat masalahnya dipergunakan dalam tulisan ini. Berdasarkan atas sifat-sifat masalahnya itu, berbagai macam rancangan penelitian itu dapat digolongkan menjadi Sembilan macam kategori, yaitu:
1.       Penelitian historis,
2.       Penelitian deskriptif,
3.       Penelitian perkembangan,
4.       Penelitian kasus dan penelitian lapangan,
5.       Penelitian korelasional,
6.       Penelitian kausal komparatif,
7.       Penelitian eksperimental sunguuhan,
8.       Penelitian eksperimental semu, dan
9.       Penelitian tindakan.

Rabu, 12 Oktober 2016

Langkah-langkah Pengembangan Instrumen Penelitian

Pengembangan instrumen pengambil data itu berlangsung dalam langkah-langkah yang kurang lebih sudah baku yaitu (1) pengembangan spresifikasi instrumen, (2) penulisan butir-butir pertanyaan atau pernyataan, (3) telaah dan revisi butir-butir pertanyaan atau pernyataan, (4) perakitan butir-butir pertanyaan atau pernyataan ke dalam instrumen,  (5) uij coba instrumen, (6) analisis hasil uji coba, (7) penentuan perangkat akhir instrumen, (8) pengujian reliabilitas dan (9) pengujian validitas.
1.       Pengembangan Spesifikikasi Instrumen
Spesifikasi instrumen adalah rancangan pokok (grand design) instrumen. Segala kegiatan dalam pengembangan instrumen dilakukan berdasar atas spesifikasi itu. Karena itu spesifikasi ini harus digarap secara hati-hati. Spesifikasi itu harus memuat secara lengkap semua hal yang harus dilakukan, dan masing-masing harus disajikan secara spesifik. Hal-hal yang perlu dimuat dalam spesifikasi itu adalah (a) wilayah yang direkam, (b) dasar konseptual atau dasar teoretis yang akan dipakai sebagai landasan, (c) subjek yang akan diambil datanya, (d) tujuan pengambilan data, (e) materi instrumen, (f) tipe butir pertanyaan atau pernyataan, (g) jumlah butir pertanyaan atau pernyataan, (h) kriteria seleksi butir pertanyaan atau perrnyataan yang dianggap baik.
2.       Penulisan Butir-butir Pertanyaan atau Pernyataan
Kemampuan untuk menulis pertanyaan atau pernyataan adalah perpaduan atara kiat dan hasil latihan. Banyak buku-buku yang menyajikan cara-cara untuk menulis butir pertanyaanatau pernyataan. Kaidah-kaidahnya dapat ditemukan dalam buku-buku tersebut yang antara lain juga terdapat pada Daftar Pustaka buku ini. Di antara instrumen pengumpul data untuk atribut kognitif yang paling popular dan karenanya juga paling banyak dipakai adalah tes pilihan ganda dengan lima kemungkinan jawaban. Untuk atribut non kognitif, instrumen yang paling populer dan relatif paling banyak digunakan adalah skala model Likert. Kedua model instrumen itu akan menghasilkan data interval yaitu data yang paling diminati oleh para peneliti karena data interval memungkinkan penggunaan Statistika Parametrik.
3.       Telaah dan Revisi Butir-butir Pertanyaan atau Pernyataan
Butir-butir pertanyaan atau pernyataan itu harus ditelaah secara cermat apakah sudah sesuai dengan yang dirancangkan, dan apakah perlu direvisi. Rujukan pokok dalam telaah ini adalah spesifikasi instrumen. Telaah dan revisi butir-butir pertanyaan atau penyataan ini sebaiknya dilakukan oleh suatu team, akan lebih bagus kalau diselenggarakan dalam semacam seminar, agar butir-butir pertanyaan atau pernyataan itu dapat dicermati dari berbagai aspeknya. Aspek-aspek utama yang perrlu dicermati adalah (a) kesesuaian dengan spesifikiasi, (b) kesesuaian dengan landasan teoretis, (c) kesesuaian dengan format dilihat dari sudut ilmu pengukuran, (d) ketepatan bahasa yang digunakan, dilihat dari sudut bahasa baku dan subjek yang memberikan response.
Guna memudahkan pekerjaan para penelaah, sebaiknya dibuatkan semacam daftar cek. Untuk instrumen pengambil data kogintif, misalnya daftar cek itu adalah sebagai berikut.
Pastikan bahwa:
1.       Kunci jawaban jelas-jelas benar,
2.       Setiap alternative lainnya jelas salah,
3.       Pertanyaan sesuai dengan indikatornya,
4.       Pertanyaan memiliki tingkat kesulitan yang sesuai,
5.       Konsep atau proses yang direkam jelas,
6.       Istilah dan situasi dalam pertanyaan terdefinisi dengan jelas,
7.       Para respponden mampu memahami apa yang diharapkan mereka lakukan,
8.       Pertanyaan ditulis dalam bahasa dan ejaan yang benar,
9.       Struktur tata bahasa untuk semua alternative jawaban konsisten dan sesuai,
10.   Tidak ada pentujuk tentang jawaban yang benar.

4.       Perakitan Butir-butir Pertanyaan atau pernyataan ke dalam Perangkat Instrumen
Butir-butir pertanyaan atau pernyataan itu harus dirakit menjadi satu instrumen yang siap untuk diujicobakan. Hal penting yang harus selalu diingat adalah bahwa response terhadap sesuatu petanyaan tidak boleh mempengaruhi response terhadap pertanyaan lain, karena secara teori masing-masing pertanyaan itu bebas satu sama lain. Dalam perakitan ini sekaligus dirumuskan petunjuk bagaiman caranya eresponse kepada pertanyaan-pertanyaan itu. Instrumen yagn telah dirakit itu kemudian dicetak dan siap untuk duji cobakan.
5.       Uji coba Instrumen
Uji coba merupakan langkah yang sangat penting dalam proses pengembangan instrument, karena dari uij coba inilah diketahui informasi mengenai mutu instrumen yang dikembangkan itu. Syarat utam uji coba adalah bahwa karakteristik subjek uji coba harus sama dengan karakteristik subjek penelitian. Selain itu kondisi uji-coba (misalnya waktu, alat-alat yang dipakai, cara penyelenggaraaan) juga harus sama dengan kondisi penelitian yang sebenarnya. Agar syarat-syarat tersebut dapat terpenuhi maka uji coba instrumen itu harus dipersiapkan secara matang dan dilaksanakan secara professional.
6.        Analisis Hasil Uji Coba
Hasil uji coba itu lalu dianalisis. Butir demi butir pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan itu diteliti kualitasnya. Karena itu analisis ini pada umumnya lalu disebut analisis butir (item analysis). Walaupun pada dasarnya polanya sama, namun analisis butir-butir pertanyaan (untuk atribut kognitif) dan analisis butir-butir pertanyaan (untuk atribut non kognitif) mengandung perbedaan. Perbedaan itu akan nyata dari uraian berikut.
a.       Analisis Butir Pertanyaan
Dalam analisis butir-butir pertanyaan (untuk atribut kognitif) dicari informasi mengenai hal-hal berikut ini.
(1)    Distribusi response,
(2)    Taraf kesukaran, dan
(3)    Daya beda.
Distribusi response diperlukan untuk mengetahui efektif tidaknya alternative-alternatif pengecoh. Taraf kesukaran butir soal diperlukan untuk mengetahui apakah taraf kesukaran butir soal sesuai dengan yang telah direncanakan dalam spesifikasi instrumen. Taraf kesukaran ini biasanya dilambangkan dengan hard p (proporsi yang menjawan benar). Daya beda soal diperlukan untuk mengetahui seberapa akurat butir pertanyaan itu membedakan subjek yang lebih mampu dari subjek yang kurang mampu. Daya beda ini biasa dihitung dengan mencari korelasi antara skor pada butir itu dengan skor total (item total correlation rit). Teknik yang paling sesuai dengan sifat datanya adalah korelasi biserial (biserial correlation, rbis)
Untuk melakukan analisis butir-butir pertanyaan ini telah tersedia berbagai program computer. Program yang banyak digunakan adalah SPSS, atau yang lebih khusus I TEMAN.
b.      Analisis Butir-butir Pernyaaan
Dalam analisis butir-butir pernyataan (misalnya skala model Likert) dicari informasi mengenai (1) diatribusi response dan (2) daya beda butir pernyataan.
Dalam menganalisis butir-butir pernyataan ini dicari informasi apakah butir-butir pernyataan yang dianalisis itu merupakan butir pernyataan yang baik. Butir pernyataan yang baik cirinya adalah (1) semua kemungkinan jawaban terisi dan (2) distribusinya bermodus tunggal (uni modal).

7.       Penentuan Perangkat Akhir Instrumen
Berdasar hasil analisis butir-butir pertanyaan atau pernyataan itu dipilih butir-butir pertanyaan atau pernyataan yang baik sesuai dengan spesifikasi. Untuk butir-butir pertanyaan dipilih butir-butir yang mempunyai harga p pada sebaran tertentu (misalnya dari 0,25 sampai 0,75 atau dari 0,20sampai 0,80) sesuai spesifikasi dan yang mempunyai harga rbis tertentu (misalnya sekurang-kurangnya 0,30 atau sekurang-kurangnya 0,25 atau sekurang-kurangnya 0,20). Butir-butir pertanyaan yang memenuhi kedua kriteria itu dipilih sebagai butir-butir pertanyaan yang baik lalu dirakit menjadi perangkat akhir instrument yang akan digunakan dalam penelitan.
Untuk butir-butir pertanyaan dipilih butir-butir yang memenuhi syarat berdasar distribusi response dan yang mempunyai harga t signifikan (berdasar uji t satu ujung). Butir-butir pernyataan yang memenuhi kedua kriteria itu dipilih sebagai butir-butir pernyataan yang baik dan dirakit menjadi perangkat akhir instrumen yang akan digunakan dalam penelitian.
8.       Pengujian Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas instrumen merujuk kepada konsistensi hasil perekaman data (pengukuran) kalau instrumen itu digunakan oleh orang atau kelompok orang yang sama dalam waktu berlainan atau kalau instrumen itu digunakan oleh orang atau kelompok orang yang berbeda dalam waktu yang sama atau dalam waktu yang berlainan. Karena hasilnya yang konsisten itu, maka instrumen itu dapat dipercaya (reliable) atau dapat diandalkan (dependeable). Secara psikometris diteorikan, reliabilitas sestau instrumen adalah proporsi variansi skor perolehan yang merupakan variansi skor murni.
Ada tiga cara untuk mengestimasi reliabilitas instrumen itu yaitu:
a.       Metode uji ulang (test-retest method)
b.      Metode bentuk parallel (paralled form method), dan
c.       Metode pengujian satu kali (single trial method)
Pada metode uji ulang seperangkat instrumen diberikan kepada sekelompok subjek dua kali, dengan selang waktu tertentu (misalnya dua minggu atau tiga minggu). Lalu skor pada perekaman data yang pertama dan skor pada perekaman data yang kedua itu dikorelasikan. Angka korelasi itulah yang merupakan koefisien reiabilitas, rtt = rI II
Pada metode bentuk parallel disusun dua perangkat instrumen yang paralel (kembar), misalnya perangkat A dan perangkat B. Kedua perangkat instrumen itu diberikan kepada satu kelompok subjek dalam waktu beruntutan, atau dengan selang waktu sedikit skor pada perangkat A dikorelasikan dengan skor pada perangkat B. koefisien korelasi itulah yang merupakan koefisien reliabilitas, rtt = rAB
Kedua metode itu mengandung keterbatasan atau kesulitan, oleh karena itu di dalam praktek jarang peneliti menggunakan kedua metode itu. Para peneliti pada umumnya memilih menggunakan metode pengujian satu kali. Dalam metode pengujian satu kali seperangkat instrumen diberikan kepada sekelompok subjek satu kali, lalu dengan cara tertentu diestimasi reliabilitas instrumen tersebut. Sampai sekarang ada tujuh macam cara yang telah diusulkan oleh para ahli yaitu:
(1)    Metode belah dua (split half method),
(2)    Metode Rulon,
(3)    Metode Flanagan,
(4)    Metode KR20,
(5)    Metode KR21,
(6)    Metode analisis variansi (metode Hoyt), dan
(7)    Metode alpha (Cronbach).
Terkecuali metode belah dua, keenam metode yang lain itu berdasarkan teori bahwa koefisien reliabilitas sama dengan 1 dikurangi variansi kesalahan pengukuran dibagi variasni total (skor perolehan).
Walaupun koefisiensi reliabilitas itu wujudnya adalah koefisien korelasi (karena memang diteorikan berasal dari korelasi antara dua tes parallel), tetapi dalam menginterpretasikannya tidak didasarkan harga kritis r dalam tabel korelasi, melainkan ditafsirkan berdasar galat baku pengukuran (strandart error of measurement).
Dari bermacam-macam teknik untuk mengestimasi reliabilitas instrument itu aman yang terbaik, tidak ada kesepakatan penuh diantara para ahli. Dalam praktek yang terjadi adalah semacam “kesukaan”, yang terkait dengan pengalaman pribadi dan tersedianya program computer. Yang pokok adalah si peneliti harus melaporkan menggunakan teknik mana dan hasilnya berapa, lalu interpretasinya bagaimana.
9.       Pengujian Validitas Instrumen
Validitas instrument didefinisikan “sejauh mana isntrumen itu merekam/mengukur apa yang dimaksudkan untuk direkam/diukur”. Ada tiga landasan untuk melihat sejauh mana itu yaitu (a) didasarkan pada isinya, (b) didasarkan pada kesesuaiannya dengan constructnya dan (c) didasarkan pada keseseuaiannya dengan kriterianya yaitu instrument yang lain yang dimaksud untuk merekam/mengukur hal yang sama. Jadi secara teori ada tiga macam validitas diatas berdasar kriteria. Secara ideal setiap isntrumen pengumpul data penelitian harus memiliki ketiga macam validitas itu. Akan tetapi seringkali keadaan ideal itu belum tentu tercapai, tetapi adalah merupakan kewajiban akademik setiap peneiliti untuk berupaya menegakkan validitas instrument pengumpul datanya, karena seperti telah disebutkan di muka, kualitas isntrumen ini akan sangat menentukan validitas internal penelitian yang dilakukan.
a.       Menegakkan Validitas Isi
Validitas isi ditegakkan pada langkah telaah dan revisi butir pertanyaan/butir pernyataan, berdasarkan pendapat prosefional (professional judgement) para penelaah. Validitas isi secara relative lebih mudah ditegakkan dibandign kedua macam validitas yang lainnya. Sebagai pertanggungjawaban akademik, peneliti wajib menginformasikan secara lengkap proses penegakan validitas isi ini termasuk daftar cek yang digunakan dalam proses validasi serta nama-nama peserta dalam proses itu beserta kualifikasi akademiknya (daftar nama sebaiknya disajikan dalam Lampiran).
b.      Menegakkan Validitas Construct
Sampai sekarang ada dua cara yang telah diusulkan untuk menegakkan validitas rekaan teoretis yaitu (a) discriminant validation melalui multi trait-multi method dan (b) analisis faktor. Teknik multi trait-multi method boleh dikatakan relative baru, dan belum banyak digunakan terutama karena beban kerjanya yang tinggi. Peneliti harus menyiapkan lebih dari satu instrument untuk merekam/mengukur lebih dari satu sifat. Dasar pikiran penerapan cara ini adalah hal-hal yang secara teori berdekatan harus tinggi korelasinya (convergent validation) dan hal-hal yang